Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2018

Seberkas Bulan April

Gambar
Seberkas Bulan April (oleh : Nida Sopiah Zulfa) Hari dan malam yang pergi tiada ganjil tiada mati sebab cinta menjadi ahli pelepas lara dan perih Sempat perahu hatiku lunglai tenggelam akibat badai menyayat hingga cerai berai Kini aku dapat LUPA sejak bulan April kian menggelora berjajar dengan setia mengubah si ratu makan hingga berpuasa Aduhai kerongkong tak kering cintaku sudah menjadi tameng ia goda aku untuk bebas dalam kasih yang mengeras Ah.. Dia tercatat sebagai pedoman hati sebab..hariku bak taman asri Sebelum cinta berbuat usil akan aku catat seberkas bulan April bukti bahwa cintaku sempat berhasil (Rancah, 27 April 2018)

Harapan-masih-bisu

Gambar
Harapan yang masih membisu Nida Sopiah Zulfa Seseorang berkata: " Jika harapanmu memang landasanmu untuk menang dalam hidup, maka papahlah harapanmu disetiap langkahnya, jadikan ia sebagai referensi untuk kau tetap terjaga hingga kau berhasil menggapai kemenangan itu " namun itu tidak terjadi pada harapanku. Aku hanya manusia yang berharap saja, sama seperti menanam benih tanpa aku siram dengan air. Aku selalu menunggu hujan datang untuk menumbuhkan benih yang aku tanam. Jangan salah sangka, jangan menerka aku sebagai manusia pemalas dan picik, bahkan akulah manusia yang sering berpikir rinci. Dan, jika orang-orang meletakan tanda tanya pada harapanku, aku hanya dapat menjawabnya dengan sebuah alasan. Alasan yang bagiku rumit tanpa solusi. Sebab... harapanku adalah mustahil untuk di wujudkan, dan jikapun mustahil itu dapat di pudarkan dengan keajaiban, rasanya butuh beberibu zaman untuk mewujudkanya. Aku memang tidak hanya memiliki satu harapan saja, harapan yang masih ...

Cerpen-PKIDalamAngkot-

Gambar
" PKI DALAM ANGKOT" (oleh : Nida Sopiah Zulfa)   Jam kuliah bubar lebih awal. Ah.. panas sekali hari ini. Aku segera pulang saja, rasanya lelah hari ini. Angkot penuh sesak dengan manusia, keranjang-keranjang dan karung-karung yang kosong dan berisi. Kantong pelastik punya ibu gendut itu bentuk isinya seperti beras dan macam belanjaan dapur. Beda dengan Pak Tua itu, badannya agak ceking, bajunya kotor dan compang-camping, ia mengais karung kecil berisi daun singkong agak layu. Hari panas, orang-orang  dan makanan dalam bungkus keringatan, angkot jadi bau keringat dan terasi. Sesekali aku palingkan kepala ke ambang jendela yang terbuka, menghirup angin liar penuh debu kendaraan, wajahku lengket bak oli bocor. Ah.. Ciamis bagai jakarta saja. Aku jadi ingat yang di kisahkan Idrus, keadaanya hampir persis saat TREM yang sesak.   Kembali ku perhatikan orang-orang dalam angkot nomor 10, di depanku duduk seorang perempuan yang terbilang masih muda memangku anak kecil kira-kir...

Cerpen-SDKT-AyiSayidah

Gambar
"Senja Dalam Kasih Tuhan" Karya : Ayi Sayidah    Hujan yang tak reda seakan menjadi irama yang menemani Rania sore hari ini. Hari yang penuh dengan kesunyian . Mundar-mandir yang entah apa yang ia cemaskan. Matanya terpojok pada handphonenya.   "Tak ada massage" gumamnya. Menyimpan kembali diatas ranjang. Wajah putih nya terlihat begitu jengkel , sesekali dahinya mengkerut, matanya terpojok selalu pada handphone nya.   "Apa benar kata teman dikampus? " Seketika ia pun terkejut dengan pertanyaan sahabat nya Raisya yang tiba-tiba masuk ke kamarnya.   "Ya ampun Sya, bisa gak kamu masuknya permisi dulu?" Ujar Raina jengkel dengan sikap sahabatnya itu.    " Raina sayang, sudah berapa puluh kali aku ketuk pintu, kamu gak nyaut! ya aku kesal .. ya udah aku masuk aja" tak ingin kalah Raisa pun membela diri.    "Iya maaf deh Sya" nada kecutnya yang mulai asyik dengan handphonenya. Raina pun kembali dibuat jengkel. Ia pun membera...

Cerpen-BiarlahKamiJadiBingkai-

Gambar
(BIARLAH KAMI SEBAGAI BINGKAI) oleh : Nida Sopiah Zulfa "Assalamualaikum. Ke kantin yuk!" Ajak Hasan pada Faisal yang sedari tadi sibuk membaca buku Kepramukaan. "Waalaikumsalam. Boleh! " jawab Faisal yang hendak melipat kertas yang baru dibacanya. "Sal,  gimana? udah ada jawaban dari Kepala Sekolah? " Tanya  Hasan. "Sepertinya tahun ini kita memang tidak bisa  ikut MLPK (Multi Lomba Pelajar Kreatif) ke IV lagi" Ada sikap kepasrahan yang besar dalam diri Faisal. "Apa?  lagi?  Tahun kemarin kita udah antusias dan cape-cape latihan malah gak bisa maju kompetensi.  Sekarang kita udah jadi bagian kepengurusan anak-anak aja masih sama.  Gak ada bangga-bangganya sekolah disini" Sinis Hasan. "Mungkin cuma kita yang tidak bangga.  Tapi mereka yang memiliki prestasi telah bangga" Faisal duduk di sudut ruang kantin. "Kita juga punya prestasi. Merekanya saja yang tidak menyalurkan kita.  Kemampuan manusia kan beda-beda"...

Puisi-CintaBisu-

Gambar
Cinta Bisu (oleh : Nida Sopiah Zulfa) Bukan karena hujan tak bisa aku genggam.. atau angin yang tak dapat aku temukan wujudnya.. Yang membuat mataku bengkak..merah.. .. dan kesat akibat menangis raya. Ini hanya karena aku iba menemukanmu terlunta-lunta.. tak lagi berdaging dan kebal.. Sebab... Kau jera tak mendapat suara kasihku.. kau hina akibat tak disambut senyumku... Dan, di ujung air matamu.. aku temukan puisi singkat yang aku dengar dari gemaan hatimu.. katamu... "matamu buta tak lihat hadirku setiap derap.. telingamu tuli tak dengar ungkapan romansa bibirku.. dan lidahmu buntu tak membalas kata" Puisimu itu cambuk aku seribu kali.. hingga kau lihatkan statusmu sebagai mustadh'afin... Kini kau dikubur oleh kebisuan cintaku.. Saat hidupku dirasuki prahara tahta...harta dan keluarga.. aku di sekat oleh kebencianku padamu... sebab.. kau bagian pemusnah organ hidupku.. bukan tidak ada cinta... bahkan aku mencintaimu sejak kau tak cukup mengenaliku.....

Cerpen-about-BudayaLiterasi

KERTAS (Kerennya Literasi)  Oleh : Nida Sopiah Zul fa   Bisu, sebuah penyakit yang kini bersemayam pada seorang pemuda bekulit coklat.  Badannya tinggi dan memiliki lesung di pipinya.  Sebut saja Faisal. Tuli, tambahan penyakit yang membuat Faisal galau gulana berada di forum diskusi kecil.  Bukan tentang bibirnya yang bisu atau telinganya yang tuli. Melainkan otaknya yang terasa mogok di tengah-tengah jalan diskusi  yang ramai.  Tak pernah faham. "Maaf bang!!  Saya pamit , ada keperluan sebentar" ucap Faisal sembari merapatkan kedua telapak tangannya. Suara itu menjadi pusat perhatian.  Seluruh isi ruangan hanya membalasnya dengan menganggukan kepala.  Di sudut ruangan,  seseorang hendak memperhatikan tingkah Faisal.  Rahma namanya,  perempuan yang mafhum pada teori psikologi begitu hafal keadaan Faisal, bahwa betapa tidak betahnya ia berdiam diri di tempat seperti ini.  10 detik berlalu,  jasad Faisal kia...