Cerpen-SDKT-AyiSayidah
"Senja Dalam Kasih Tuhan"
Karya : Ayi Sayidah
Hujan yang tak reda seakan menjadi irama yang menemani Rania sore hari ini. Hari yang penuh dengan kesunyian . Mundar-mandir yang entah apa yang ia cemaskan. Matanya terpojok pada handphonenya.
"Tak ada massage" gumamnya. Menyimpan kembali diatas ranjang. Wajah putih nya terlihat begitu jengkel , sesekali dahinya mengkerut, matanya terpojok selalu pada handphone nya.
"Apa benar kata teman dikampus? " Seketika ia pun terkejut dengan pertanyaan sahabat nya Raisya yang tiba-tiba masuk ke kamarnya.
"Ya ampun Sya, bisa gak kamu masuknya permisi dulu?" Ujar Raina jengkel dengan sikap sahabatnya itu.
" Raina sayang, sudah berapa puluh kali aku ketuk pintu, kamu gak nyaut! ya aku kesal .. ya udah aku masuk aja" tak ingin kalah Raisa pun membela diri.
"Iya maaf deh Sya" nada kecutnya yang mulai asyik dengan handphonenya. Raina pun kembali dibuat jengkel. Ia pun memberanikan diri merebut handphone dari si kulit putih . Suaranya berubah menjadi tinggi seolah ingin kepuasan.
" Dengar ya baik-baik! aku tanya sama kamu. Apa betul berita dikampus Rain? Tentang kamu? " Raina pun menatap sahabatnya penuh tanya.
Kadang, budaya berpengaruh terhadap kehidupan. Perbedaan menjadi loyalitas utama. Mengapa? Ketika hidayah mulai mengetuk seorang pengharap , gelombang mulai bergerumuh sengit. Entahlah! tak mengerti dengan pikiran picik manusia di zaman tua ini. Raina pun mulai mengurungkan niat baiknya untuk menutup auratnya dengan sempurna "berhijab" ya, kata yang begitu menyejukkan dan memanjakan telinga setiap insan yang mencinta. Raina seorang mentari yang menyilaukan setiap mata yang memandang, menjadi rembulan yang mengubah keadaan kelam penuh dengan keromantisan. Semua yang memandang akan terhipnotis dengan parasnya seorang bintang kampus. Bajunya selalu diatas lutut, membentuk lekuk tubuh yang menggoda setiap yang memandang. Tak heran, seorang model terkenal,namanya terpublikasi diberbagai media.
" Siapa yang membuat berita itu?" Raina pun membalikkan keadaan.
"Aku gak tahu rain, tapi kalau dipikir-pikir siapa lagi kalau bukan jurnalis kampus" Raisya pun mulai memojok tuduhan tak pasti.
" Jangan bilang itu Azam?"
"Iya siapa lagi Kalau bukan lelaki so alim itu" cetus Raisya .
Azam? Ya! lelaki berparas Arab itu selalu disebut so alim entah apa yang membuat mereka berpikir seperti itu. Kesholehan dan kealiman lelaki berkacamata itu mengundang respon negatif dikalangan mereka yang hatinya tertutup debu yang menggumpal. Tak banyak juga mereka merespon baik.
" Apa betul Azam yang membuat berita itu? Apa maksudnya?" Gerutunya. Dunia hiburan selalu mengasyikan hati yang kelam. Namun, kadang gelombang pun menerpa segumpal pasir kedalam lautan . Begitu pun dengan Rain, agama sangat menjauh darinya . Entah ia yang menjauh dari agama?. Batu yang keras pun melapuk oleh setitik embun senja dengan seiringnya Masa. Azam menjadi pelipur lara setiap kagalauan dirinya, ia pun mulai tertarik dengan nilai agama lewat seminar yang dibawakan Azam. Seminarnya selalu di-update membuat Rain mudah untuk mengakses. Namun namanya juga manusia, pikiran picik menguasai dirinya, bukan Raina namanya tanpa gengsi. Kerap kali orang menyinggung niat baik itu,ia pun selalu membantah keras. Seakan tak peduli.
"Azam.. apa benar kamu yang menulis berita dimading? Berita yang membuat aku malu itu. Apa sebenarnya maksud kamu? Apa untungnya buat kamu. Oh aku tahu, biar aku jatuh dihadapan mereka hingga aku dicabut dari bintang kampus? Itu maksud kamu Azam?" Emosi menguasai dirinya. Ia pun begitu penasaran dengan tingkah Azam.
"Iya ,saya yang memuat semua berita itu" jawabannya begitu singkat. Pandangan nya tertunduk dihadapan wanita itu, tak kuasa dengan mata yang tak ingin ternoda bahkan terpikat oleh penampilan wanita itu.
"Maaf, bantu saya tolong kamu tutupi tubuh kamu dengan selendang ini (sambil mengulurkan selendang putihnya) bukanya apa, saya malu melihat aurat kamu. " Jelasnya penuh harap. Rain pun terdiam membisu mendengar penjelasan Azam. Aneh dengan tingkah nya itu.
" Apa maksudmu tentang semua ini?" Memecah keheningan.
"Jika kamu ingin tahu penjelasan nya,kamu datang keseminar yang akan saya bawakan nanti. Insyaalloh kamu akan tahu Jawabannya." Azam pun beranjak dari tempat duduknya.
"Aku belum selesai bicara, tunggu!" Rain pun menghalangi langkahnya. Namun, tak mengurungkan niatnya untuk berhenti dari langkahnya.
Rain pun dibuat malu mengejar Azam, ia pun kesal dibuat. Seketika pikirannya berimajinasi tentang penjelasan Azam tadi. Rain pun begitu penasaran. Pikirannya pun tertuju pada satu tumpu " seminar" dengan cara itu pertanyaan mungkin akan terjawab.
"Kamu yakin akan ikut seminar?" Tanya Raisya yang tiba-tiba muncul.
"Mana mungkin raisya tahu tentang apa yang aku pikirkan tadi" gumam Rain dalam hati .
" Bukan Raisya namanya kalau datang tanpa sapa dan pergi tanpa pamit" ledeknya. Raisya pun hanya tersenyum malu.
" Sya, kata siapa lagi ? Ya bukan keinginan aku datang keseminar itu. Tapi,Karena aku bintang dikampus ini, harus hangat dan ramah kepada siapapun dan tentunya jadi panutan untuk semuanya. Aku memang akan ikut seminar , tapi terpaksa. " Jelasnya membanggakan diri dan tak masuk akal itu
"Bilang aja kalau kamu penasaran. Kamu itu cantik, kalau pakai hijab nanti kamu terlihat kolot, cupu, kampungan . Bagaimana kata orang nanti seorang bintang kampus mendadak jadi kampungan kan enggak banget" ledeknya puas. Rain pun membisu kesal .
***
Langkah nya ragu, namun penasaran yang begitu menjulang tinggi membuat nya yakin . Semua konsekuensi akan ia terima dengan logis. Pikirnya.
Seperti yang ia duga kehadiran nya disambut kasar oleh mereka yang mengikuti seminar sore itu. Mereka berbisik mencibir Raina . Tak sedikit dari mereka berterang-terangan menghardik kasar Raina.
"Sabar Rain sabar, kalau bukan karena penasaran aku juga gak mau disini" gumamnya dalam hati (sambil mengelus-elus dadanya)
"Cukup! Hargailah setiap orang tanpa membedakan dalam aspek apapun. Siapa tahu hidayah Allah datang tanpa sangka yang tak pernah kita duga. Bersikap baiklah" tegas Azam.
"Silahkan, Raina duduk ditempat yang kosong" sambungannya hangat.
Raina pun tertegun dengan sikap hangatnya. "Anggapan orang selama ini salah. Azam tak pernah so' so'an apalagi so' alim. Karena Azam benar-benar alim" pikirnya.
"Assalamu'alaikum.. Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahi robbal'alamin assolatu wassalamu 'alaa asyrofil anbiyai wal Mursalin wa 'alaa alisihi wasohbihi ajma'in ammaa ba'du.
Pada kesempatan kali ini saya akan membawakan tema "Membuka Belenggu hidayah" yang mana tema ini berhubungan dengan peran wanita dalam kemajuan agama dan negara. Peran wanita menjadi "Madrosatul ula" guru pertama bagi keturunannya. Ilmu agama menjadi prioritas utama dalam pondasi kehidupan disetiap zaman. Kehidupan yang dibangun oleh ketaatan menempuh hiruk pikuk kegalauan menjadi sumber kekuatan untuk menempuh pribadi yang lebih baik dihadapan-Nya. Kita pahami dulu dasarnya. Saya ambil cerita percakapan 3 murid dengan seorang guru. Sang guru membuat garis dipapan tulis dan satu persatu dari ketiga murid itu membuat garis dengan perintah lebih pendek dari garis yang dibuat sang guru. Kedua muridnya pun mengahapus garis itu . Diperpendek. Namun tidak dengan murid yang satu lagi, ia malah mengambil spidol dan membuat garis dibawah garis yang dibuat sang guru lebih pendek. Filosofi nya, jika kita ingin mulia, muliakanlah diri tanpa menghinakan orang lain. Apapun yang kita inginkan kejar, tanpa menjatuhkan orang lain . Begitu pun dalam peran wanita. Salah satunya dan paling utama adalah "menutup aurat". Kita ingin menjadi belahan jiwa setiap muslim, jadikan dirimu menjadi belahan jiwamu. Bersyukur ketika hijab melekat dalam diri, tanpa mengolok mereka yang tak berhijab. Kita pahami dasarnya. Berhijab adalah suatu kewajiban, karena Al-Qur'an yang menjadi dasarnya. Allah SWT perintahkan langsung untuk menutup aurat. Q.s an nur[24] :31 .Jangan marah ketika orang lain menegur anda untuk berhijab. Kalau anda marah, berarti anda marah sama Allah SWT. " Azam pun berhenti menjelaskan, ia mengeluarkan dua buah loli . Satu masih terbungkus rapih dan satu lagi sudah dijilat. "Anda pilih mana loli yang masih utuh atau loli yang sudah dijilat?" Pernyataannya mengundang respon dari hadirin yang hadir kala itu. Mereka bergerombol memilih yang masih terbungkus, bahkan ada juga yang jijik dengan loli itu. "cukup! Seperti itulah gambaran wanita . Antara yang berhijab dan belum berhijab. Bukan untuk membedakan tapi itulah kenyataannya. Bersyukurlah ketika anda merasa malu , karena itu artinya hidayah Allah SWT sedang dalam perjalanan menemui anda. Niatkan dalam diri untuk berhijab dengan mantap menempuh keridhoan-Nya. Insyaalloh sesulit apapun akan Allah SWT mudahkan. Jadikan Allah SWT sebagai prioritas utama dalam hidup, cinta diatas segalanya. Bertaubatlah dengan taubat nasuha . Untuk yang sudah berhijab, jangan membanggakan diri, kita terlihat mulia di hadapan manusia, namun kita tak pernah tahu kualitas diri dihadapan Allah SWT. Bersyukurlah kepada Allah SWT. Tiada henti perbaiki diri. Karena setelah berhijab ujian tak berhenti kala itu. Allah SWT akan menguji selalu hamba-Nya. " Semua orang yang ada di ruangan itu begitu terharu mendengarnya. Raina pun seakan dibanjiri air mata malu . Selama ini yang ia banggakan dihadapan manusia begitu hina dihadapan Allah SWT. Raina begitu menyesal . Dirinya dianggap pintar oleh khalayak tapi ia merasa ia paling bodoh. Raina begitu malu. Air matanya tak berhenti, ia tak menghiraukan keadaan. Satu persatu mereka mulai meninggalkan ruangan. Hanya seorang yang berdiam diri. Raina. " Aku malu Tuhan! aku malu" sambil terus memukuli dirinya. Melihat itu, Azam pun menghampirinya. " Menyakiti diri tak akan menebus semua kesalahan, malah itu sumber kedzoliman terhadap diri. Yang menebus dosa itu adalah taubat. Berhenti lah memukuli diri, bertaubat kepada Allah SWT. Kesempatan berpihak kepada kamu. Allah SWT Maha penyayang dan pengampun" Kata demi kata menjadi penyejuk dalam hati yang gundah gulana.
Tak ada seorang pun kecuali Raina dan Tuhannya yang bersua kala senja menelan cahaya. Tangisnya tak henti memohon pengampunan kepada Tuhannya. Penyesalan yang begitu dalam.
"Aku bertaubat kepada-Mu Tuhanku Allah SWT." Raina pun bersujud mengharap belas kasih Tuhannya. Ketenangan yang ia rasa seakan Tuhan mengelusnya, memberi kasih. Raina pun tertidur dalam dekapan cinta-Nya untuk selamanya.
Komentar
Posting Komentar