Cerpen-BiarlahKamiJadiBingkai-

(BIARLAH KAMI SEBAGAI BINGKAI)
oleh : Nida Sopiah Zulfa

"Assalamualaikum. Ke kantin yuk!" Ajak Hasan pada Faisal yang sedari tadi sibuk membaca buku Kepramukaan.
"Waalaikumsalam. Boleh! " jawab Faisal yang hendak melipat kertas yang baru dibacanya.
"Sal,  gimana? udah ada jawaban dari Kepala Sekolah? " Tanya  Hasan.
"Sepertinya tahun ini kita memang tidak bisa  ikut MLPK (Multi Lomba Pelajar Kreatif) ke IV lagi" Ada sikap kepasrahan yang besar dalam diri Faisal.
"Apa?  lagi?  Tahun kemarin kita udah antusias dan cape-cape latihan malah gak bisa maju kompetensi.  Sekarang kita udah jadi bagian kepengurusan anak-anak aja masih sama.  Gak ada bangga-bangganya sekolah disini" Sinis Hasan.
"Mungkin cuma kita yang tidak bangga.  Tapi mereka yang memiliki prestasi telah bangga" Faisal duduk di sudut ruang kantin.
"Kita juga punya prestasi. Merekanya saja yang tidak menyalurkan kita.  Kemampuan manusia kan beda-beda" Hasanpun duduk dengan sikap kesal dan kecewa.
"Sudahlah.  Kita juga yang salah masuk.  Coba lihat visi misi sekolah ini,  mencetak siswa/siswi yang aktif dalam bidang pembelajaran kelas,  lucu deh " Faisal tetap polos dan tak terlalu kesal.  Sebab ia merasa sudah kebal dengan penolakan-penolakan dari kepala sekolah.  Padahal apa salahnya? . Hal positif juga yang ingin memberi kebanggaan melalui kemampuannya sendiri.  Seni,  olah raga atau ilmu eksternal.
  Senja sunyi raya.  Faisal teringat keluhan Hasan tadi pagi. Otaknya terlilit banyak hal.  Tentang Ulangan Akhir Semester, tentang aspirasi yang tak pernah di tampung dan tentang norma klasik yang tak pernah di ubah di sebuah Sekolah Menengah Pertama Swasta daerah Ciamis. Dan, Kemampuannya hanya pada segi motoric membuatnya tak tahan bercinta dengan bidang-bidang ilmu yang tidak ia cintai. Tapi ambisinya masih mendidih, masih tak padam sejak ia melihat sekolah lain tetap eksis dengan kegiatan-kegiatan yang menurutnya begitu luarbiasa.  Pramuka, band, paskibra, kesenian lainnya yang tentunya ingin ia kembangkan di sekolahnya yang hanya peka pada keilmuan umum.   Pikirannya terhenti di ambang maghrib,  mencari obat kegundahannya melalui ibadah yang disempurnakan.
  "Sofia,  boleh tidak kita bicara" pinta Faisal di sebuah kantin yang mulai penuh.
   " Boleh,  soal apa? " tanya Sofia. Faisal pun berusaha tenang dan duduk di hadapan Sofia.
   " Soal MLPK di MAN Rancah.  Aku ingin minimal 2 group anak-anak dari kita ikut,  lagian kita lihat kemampuan anak-anak juga cukup pantas di persaingkan bagaimana? " Jelas Faisal.
   "Gimana apanya sal?  Kamu lupa betapa batu nya kepala sekolah kita.  Kamu tidak takut hukuman? Lagian,  bagaimana caranya kita meminta surat rekomendasi sekolah?.  Resah Sofia yang penuh keraguan.
   "Aku susah fikirkan itu Sof,  sekarang kamu cukup bimbing anak-anak supaya lebih fokus,  UAS kan 2 minggu lagi,  sedangkan acaranya 5 hari lagi.  Masih banyak waktu istirahat dan kita cuma butuh waktu 1 hari saja untuk mengisi lomba itu.  Aku akan urus yang lain.  Administrasi juga kita punya kas yang cukup tinggi.  Aku harap kamu dapat membantu".  Jelas Faisal dengan penuh harap.
  "Ini lomba sepriangan ya Sal,  jadi aku juga agak ragu" jawab Sofia seolah keberatan.
  "Kamu yang pernah bilang ingin berubah,  kamu yang pernah bilang semestinya kita tidak diam saja, dan  kemana ucapan itu sekarang?. Aku akan berusaha menghubungi panitia MLPK supaya bisa memasukan kita tanpa surat recomend.  Jelas Faisal.
  "Aku tertegun sal,  yasudah aku akan mencobanya ya! " ucap Sofia dengan senyum kecilnya.
Faisal pun merasa banyak peluang dan kembali di penuhi rasa optimis. Tidak cuma Faisal tetapi Hasan,  Sofia dan anak-anak yang lain pun ikut bahagia.  Sebuah resiko besar bagi mereka yang membawa nama almamater namun tanpa perijinan kepala sekolah.  Namun begitulah ambiso mereka kali ini.
Setiap hari selama satu jam,  mereka berlatih dunia penjelajahan membuat kekreatifan dengan giat.
   Hari yang di tunggu tiba, sejauh ini para guru dan kepala sekolah masih tidak mengetahui rencana anak-anak Pramuka Rajawali dan Melati.  Dan anak-anak masih tutup mulut tak memberitahu pada siswa dan siswi lain. Rasa degupan yang menggebu memuncak pada mereka terutama Faisal sebagai pemimpin mereka semua. Hasan dan Sofia pun ikut bergetar dan was-was. 
Meriah dan Indah melihat persaingan itu,  mendapatkan inspirasi dari kekereatifan sekolah lain.  Mulai dari kostum yang di pakai dan lagu yel-yel yang heboh tetapi dapat di maknai dengan begitu menakjubkan.
Dengan penuh optimis, mereka mengucapkan kalimat takbir dan siap tempur bersama anak-anak rimba dari berbagai pelosok.
  Senja kembali menyapa,  mereka begitu kelelahan dan segera pulang.  Sebenarnya pengumuman perlombaan masih belum dimulai.  Namun faisal pun tak tega dengan kondisi anak-anak ditambah jarak yang cukup jauh.  Sehingga segera mengajak mereka kembali kehabitatnya. Tetap ada harapan meski mereka kira tidak mungkin.  Namun bagi mereka hati ini adalah hari yang paling Indah.  Pulanglah mereka dengan seulas senyuman bahagia.
   Esok yang di tunggu tiba,  Faisal tak menerima berita kemenangan sedikitpun.  Membuatnya merasa sia-sia dan penuh penerkaan yang negatif.  Hari itu adalah hari senin,  walau badannya masih merasa pegal dan lemas.  Tetapi tidak boleh ia mendapat hukuman gara-gara telat upacara bendera merah putih. Faisal dan anak-anak pramuka yang lain saling membalas senyum,  seolah saling mengerti apa yang terjadi hari kemarin.
Bendera di kibarkan oleh pasukan paskibra, pancasila telah di kumandangkan.  Terdengar Kepala Sekolah hendak menyampaikan amanatnya di dengah-tengah lapangan.  Semua siswa mendengarkannya seksama.  Sampai pada pertengahan pembicaraan suaranya kian lantang dan keras.
  "Ternyata ada siswa-siswi kita yang tidak mengikuti peraturan.  Mereka dengan seenaknya berbuat tanpa perijinan guru satupun" tangannya masih melingkup di belakang.  Mendengar itu Faisal dan yang lain amat kaget dan takut.  Disertai detakan dan getaran tubuh yang tidak beraturan.
  "Saya minta pimpinan yang kemarin mengikuti kegiatan tanpa perseijinan segera kedepan.  Sekarang" Suara keras dan tegas.  Faisal begitu takut dan tetapi ia harus tegas.  Seorang anak pramuka tidak boleh bermental tempe.  Dan,  Faisal pun memberanikan diri kedepan.  Kepala sekolah turun dari panggung    kecilnya dan "bugg" . Suara dada dan dada begitu terdengar keras,  Faisal heran dan tak mengerti . Pak kepala pun memeluk Faisal dengan erat dan menangis.  Kemudian memapah Faisal pada panggung upacara.  Mengangkat tangan kanan Faisal kelangit dan mengatakan "inilah sang juara". Bu Rini dan Pak Gelar berjalan berbarengan dengan membawa dua piala yang besar.  Tertera di sana Juara 1 PA dan Juara 1 PI MLPK IV Sepriangan Timur . Faisal meluluh darah-darahnya menghangat dan camput aduk dalam rasa. Semua anak-anak pramuka menangis terharu dan segera menghampiri Faisal di depan.
"Aku tahu semua ilmu di sekolah ini adalah baik . Tetapi biarlah kami sebagai bingkai dari ilmu-ilmu yang selalu kalian agungkan" gumam hati Faisal.
   Kian,  mereka berjajar saling berpegangan tangan menengadahkan kepala ke langit untuk menerbangkan rasa syukur kepada-Nya. "Ada kesalahan untuk kebaikan" ucap Hasan sehari menengok sahabatnya ke kanan. Faisal…..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Institut Agama Islam Darussalam (IAID) Ciamis

Harapan-masih-bisu