Cerpen-about-BudayaLiterasi
KERTAS
(Kerennya Literasi)
Oleh : Nida Sopiah Zulfa
Bisu, sebuah penyakit yang kini bersemayam pada seorang pemuda bekulit coklat. Badannya tinggi dan memiliki lesung di pipinya. Sebut saja Faisal.
Tuli, tambahan penyakit yang membuat Faisal galau gulana berada di forum diskusi kecil. Bukan tentang bibirnya yang bisu atau telinganya yang tuli. Melainkan otaknya yang terasa mogok di tengah-tengah jalan diskusi yang ramai. Tak pernah faham.
"Maaf bang!! Saya pamit , ada keperluan sebentar" ucap Faisal sembari merapatkan kedua telapak tangannya. Suara itu menjadi pusat perhatian. Seluruh isi ruangan hanya membalasnya dengan menganggukan kepala. Di sudut ruangan, seseorang hendak memperhatikan tingkah Faisal. Rahma namanya, perempuan yang mafhum pada teori psikologi begitu hafal keadaan Faisal, bahwa betapa tidak betahnya ia berdiam diri di tempat seperti ini. 10 detik berlalu, jasad Faisal kian hilang dari pandangan Rahma. "Laki-laki mudah bosan" lirih hati Rahma agak kesal.
****
Remaja atau dewasa adalah jarak yang cukup sempit diantara keduanya. Kadang, usia yang kian dewasa, namun sikap dan tingkahnya masih mengikuti versi anak-anak kencur. Mungkin, Faisal salah satunya.
Pagi itu, daun-daun beringin berserakan di atas tanah merah kecoklatan yang lembap. Sekitar 1 M dari pohon itu, tegak sebuah warkop lengkap dengan televisinya. Faisal hendak duduk pada bangku kayu yang masih kosong. Selang beberapa detik datang seseorang menghampiri. "Mas, kopi satu" pinta Aly sembari memilih gorengan yang hangat-hangat. "Aly? " ucap Faisal agak terkejut. "Hey bro, sehat? " Tanya Aly yang mulai bersahabat. "Sehat" jawab Faisal datar.
"Diskusi kemarin pulang duluan ada keperluan apa Sal? Padahal pembahasannya seru. Al-Ghazaly! Salah satu filsuf islam yang klasik tapi asyik" Jelas Aly yang masih membayangkan bekas-bekas diskusi kemarin".
"Gua jenuh! Mau di kampus , mau du luar kampus. Selalu saja bertemu diskusi. Gak cocok buat gua".
"Karena kamu enggak kenal Al-Ghazaly". "Kenapa gua harus kenal sama Al-Ghazaly? dia kan mati" ucap Faisal yang mulai emosional.
"Sal, kamu memang bodoh".
"Yang bodoh siapa? DASAR PELAYAN ROTI". Tegas Faisal.
"ishh (menahan kesal) Mari kita bicara perekonomian. Di Indonesia pada tiap tahun mengalami pasang surut penghasilan . Coba urai gerafik setiap nomimal dan tahun penghasilan itu. Saya yakin Faisal sebagai mahasiswa jurusan Perekonomian bisa menjawab". Namun Faisal diam.
"Kenapa? Kok diam. Jangan terlalu picik jadi orang . DASAR MAHASISWA BERKARAT" tegas Aly. Kemudian, Aly pergi tanpa pamit.
Fiasal tertegun, ulu hatinya ngilu . Ingin meronta-ronta . Atas dasar kepicikannya sendiri.
****
Musim masih sama. Tak ada percikan air dari langit. Namun syukurlah masih tidak kekeringan. Jiwa Faisal terasa hampa walau ia memiliki seorang gadis pujaan. Walau ia masih melakukan sembahyang 5 waktu. Sejak perkara dengan Aly, warkop itu tidak lagi di datangi Aly.
"Kopinya mas? " tanya seorang perempuan di balik warkop.
"Lho kok, siapa? Pak Samsulnya kemana? ".
"Bapak sedang sakit. Mas ini Faisal ya? "
"Kok tahu, mbak ini siapa? "
"Oh diskusi lalu saya lihat Mas Faisal yang pulang duluan kan? "
"Oh. Iya, gara-gara diskusi itu saya berantem dengan teman saya".
Mendengar itu, Rahma hanya tersenyum.
"Kamu egois pada diri sendiri, pada negara, pada Tuhan". Tegas Rahma.
"Hey, kritikan apa lagi ini? Apa maksud kamu?" jawab Faisal heran.
"Kritikan pedas untuk mas Faisal biar bisa berfikir".
Faisal merasa tak nyaman dengan hal itu, dia pergi dan meninggalkan uang Rp.5000 di meja warkop. Rahmah tersentak, kemudia Rahma lari agak cepat, menyusul Faisal yang tengah kesal dibuatnya.
"Tunggu mas" Rahma melentangkan kedua tangannya di depan Faisal.
"Apa ini? " Faisal menghentikan langkahnya.
"Saya tahu kamu sedang berantakan, kamu sedang berada di titik kejenuhan sebagai pria berusia dewasa. Saya faham betul keadaan mas Faisal. Dan saya mau membantu Mas Faisal" jelas Rahma dengan suara terpongah-pongah.
"So' tahu kamu". Faisal memalingkan mukanya ke kanan.
"Saya belajar ilmu psikologi". Ucap Rahma spontan. Faisal hanya terdiam memperhatikan jalan. "Mau pamer kamu mbak?" sinis Faisal.
Rahma menurunkan tangannya, matanya penuh ketulusan.
"Kamu memang kuliah di jurusan ekonomi, bukan berarti kamu harus menggeluti itu saja, kamu harus adil pada bidang lain. Jika kamu menjadi pembisnis, tidak menutup kemungkinan kamu berkecimpung dengan strategi politik. Itu yang kosong dari kamu. Mas".
"Kita beda mbak. Saya memang bodoh. Saya tidak dapat memahami apapun". Jawab Faisal yang masih berdiri di sebuah trotoar. Tiba-tiba Aly datang. Menarik tangan Faisal dan membawanya ke dalam kossan tempat Aly tinggal. Rahma kembali ke warkop. Lega atas kedatangan Aly, fikirnya, Aly akan membantu temannya ini, walau Rahma berharap dapat membantunya dengan caranya sendiri "uh perasaan apa ini?" lirih hari Rahma.
Di dalam kossan itu ada 3 orang pemuda yang bercakap-cakap. Di temani beberapa gelas kopi dan rokok. Dan sebuah buku tebal yang di buka tergeltak di atas lantai.
"Kamu hanya perlu mendengar mereka. Aku akan buatkan kopi" bisik Aly pada Faisal.
"Bang Romi, saya bawa teman saya" jeda Aly di tengah-tengah keasyikan mereka.
"Oh ya boleh Ly. " jawab Romi
"Baik kita lanjut. Lu tahu semua kan? Para pahlawan sudah menjadi tulang belulang yang tidak lagi berbicara. Hanya sebuah sejarah dan bukti peninggalannya saja terpampang di berbagai musium. Sekarang giliran lu, gua dan seluruh bangsa kita yang berbicara. Bercirapa apa? Kedamaian negara, persaiangn antar negara, pendidikan dan banyak lagi. Tapi awas, Jangan karena kita bukan cetakan Universitas, melainkan sebagai "Pelayan Roti" dengan gaji seberapa. Tapi bukan berarti kita selamanya menjadi Pelayan Roti. Lu tahu caranya bagaimana? " Tanya Romi sembari menunjuk Faisal. Faisal hanya terdiam dan kaku.
"Caranya budayakan literasi. Santai bro, kita masih punya kopi dan batangan rokok agar tetap memaslahatkan waktu dengan literasi. Dulu sih. Kita memang mengenal literasi sebagai baca tulis saja. Sekarang bukan sekedar itu saja. Literasi adalah praktik kultural yang berkaitan dengan persoalan sosial dan politik. Kemampuan mengupas berita tentang apapun itu. Lu yakin masih gak mau kenalan dengan ini? Jangan tergesa-gesa!, lu boleh menyicil bacaan buku yang kamu baca. Gak usah banyak-banyan. Lu hanya perlu tahu maknanya saja dan yang paling penting adalah (Pengamalan). Nih kita ngobrol kayak gini juga literasi".
"Bentar bro, untungnya literasi apa?" Tanya Hasan yang sedari tadi mengkerutkan keningnya .
"Banyaklah. Otak lu gak kosong. Dan lu gak perlu menjual bahasa. Tapi orang akan membeli bahasa lu. Banyak wawasan itu enak bro. Bisa ngomong apalagi. Buya Hamka aja sering kritik-mengkritik, itu bagus! Kalau tanpa kritikan... dunia tidak berubah bro. Orang akan jenuh dengan produk lu yang kemasannya gitu-gitu doang, yang rasanya gak ningkat-ningkat. Bayangkan gelas ini 20 thn kedepan. Tidak ada yang tidak mungkin untuk lebih fantastic. Masih mau ketinggalan? "
Faisal tertegun, fikirannya agak terpoles dan sejuk. Banyak konsep yang mulai tersimpul di nalarnya.
"Gimana Sal? KERTAS kan?? " bisik Aly sembari menghentak bahu Faisal.
"KERTAS? " tanya Faisal heran.
"Iya.. Kerennya Literasi". Faisal menghisap rokok yang masih menyala.
"benar-benar KERTAS" gumam Faisal tersenyum.
(Kerennya Literasi)
Oleh : Nida Sopiah Zulfa
Bisu, sebuah penyakit yang kini bersemayam pada seorang pemuda bekulit coklat. Badannya tinggi dan memiliki lesung di pipinya. Sebut saja Faisal.
Tuli, tambahan penyakit yang membuat Faisal galau gulana berada di forum diskusi kecil. Bukan tentang bibirnya yang bisu atau telinganya yang tuli. Melainkan otaknya yang terasa mogok di tengah-tengah jalan diskusi yang ramai. Tak pernah faham.
"Maaf bang!! Saya pamit , ada keperluan sebentar" ucap Faisal sembari merapatkan kedua telapak tangannya. Suara itu menjadi pusat perhatian. Seluruh isi ruangan hanya membalasnya dengan menganggukan kepala. Di sudut ruangan, seseorang hendak memperhatikan tingkah Faisal. Rahma namanya, perempuan yang mafhum pada teori psikologi begitu hafal keadaan Faisal, bahwa betapa tidak betahnya ia berdiam diri di tempat seperti ini. 10 detik berlalu, jasad Faisal kian hilang dari pandangan Rahma. "Laki-laki mudah bosan" lirih hati Rahma agak kesal.
****
Remaja atau dewasa adalah jarak yang cukup sempit diantara keduanya. Kadang, usia yang kian dewasa, namun sikap dan tingkahnya masih mengikuti versi anak-anak kencur. Mungkin, Faisal salah satunya.
Pagi itu, daun-daun beringin berserakan di atas tanah merah kecoklatan yang lembap. Sekitar 1 M dari pohon itu, tegak sebuah warkop lengkap dengan televisinya. Faisal hendak duduk pada bangku kayu yang masih kosong. Selang beberapa detik datang seseorang menghampiri. "Mas, kopi satu" pinta Aly sembari memilih gorengan yang hangat-hangat. "Aly? " ucap Faisal agak terkejut. "Hey bro, sehat? " Tanya Aly yang mulai bersahabat. "Sehat" jawab Faisal datar.
"Diskusi kemarin pulang duluan ada keperluan apa Sal? Padahal pembahasannya seru. Al-Ghazaly! Salah satu filsuf islam yang klasik tapi asyik" Jelas Aly yang masih membayangkan bekas-bekas diskusi kemarin".
"Gua jenuh! Mau di kampus , mau du luar kampus. Selalu saja bertemu diskusi. Gak cocok buat gua".
"Karena kamu enggak kenal Al-Ghazaly". "Kenapa gua harus kenal sama Al-Ghazaly? dia kan mati" ucap Faisal yang mulai emosional.
"Sal, kamu memang bodoh".
"Yang bodoh siapa? DASAR PELAYAN ROTI". Tegas Faisal.
"ishh (menahan kesal) Mari kita bicara perekonomian. Di Indonesia pada tiap tahun mengalami pasang surut penghasilan . Coba urai gerafik setiap nomimal dan tahun penghasilan itu. Saya yakin Faisal sebagai mahasiswa jurusan Perekonomian bisa menjawab". Namun Faisal diam.
"Kenapa? Kok diam. Jangan terlalu picik jadi orang . DASAR MAHASISWA BERKARAT" tegas Aly. Kemudian, Aly pergi tanpa pamit.
Fiasal tertegun, ulu hatinya ngilu . Ingin meronta-ronta . Atas dasar kepicikannya sendiri.
****
Musim masih sama. Tak ada percikan air dari langit. Namun syukurlah masih tidak kekeringan. Jiwa Faisal terasa hampa walau ia memiliki seorang gadis pujaan. Walau ia masih melakukan sembahyang 5 waktu. Sejak perkara dengan Aly, warkop itu tidak lagi di datangi Aly.
"Kopinya mas? " tanya seorang perempuan di balik warkop.
"Lho kok, siapa? Pak Samsulnya kemana? ".
"Bapak sedang sakit. Mas ini Faisal ya? "
"Kok tahu, mbak ini siapa? "
"Oh diskusi lalu saya lihat Mas Faisal yang pulang duluan kan? "
"Oh. Iya, gara-gara diskusi itu saya berantem dengan teman saya".
Mendengar itu, Rahma hanya tersenyum.
"Kamu egois pada diri sendiri, pada negara, pada Tuhan". Tegas Rahma.
"Hey, kritikan apa lagi ini? Apa maksud kamu?" jawab Faisal heran.
"Kritikan pedas untuk mas Faisal biar bisa berfikir".
Faisal merasa tak nyaman dengan hal itu, dia pergi dan meninggalkan uang Rp.5000 di meja warkop. Rahmah tersentak, kemudia Rahma lari agak cepat, menyusul Faisal yang tengah kesal dibuatnya.
"Tunggu mas" Rahma melentangkan kedua tangannya di depan Faisal.
"Apa ini? " Faisal menghentikan langkahnya.
"Saya tahu kamu sedang berantakan, kamu sedang berada di titik kejenuhan sebagai pria berusia dewasa. Saya faham betul keadaan mas Faisal. Dan saya mau membantu Mas Faisal" jelas Rahma dengan suara terpongah-pongah.
"So' tahu kamu". Faisal memalingkan mukanya ke kanan.
"Saya belajar ilmu psikologi". Ucap Rahma spontan. Faisal hanya terdiam memperhatikan jalan. "Mau pamer kamu mbak?" sinis Faisal.
Rahma menurunkan tangannya, matanya penuh ketulusan.
"Kamu memang kuliah di jurusan ekonomi, bukan berarti kamu harus menggeluti itu saja, kamu harus adil pada bidang lain. Jika kamu menjadi pembisnis, tidak menutup kemungkinan kamu berkecimpung dengan strategi politik. Itu yang kosong dari kamu. Mas".
"Kita beda mbak. Saya memang bodoh. Saya tidak dapat memahami apapun". Jawab Faisal yang masih berdiri di sebuah trotoar. Tiba-tiba Aly datang. Menarik tangan Faisal dan membawanya ke dalam kossan tempat Aly tinggal. Rahma kembali ke warkop. Lega atas kedatangan Aly, fikirnya, Aly akan membantu temannya ini, walau Rahma berharap dapat membantunya dengan caranya sendiri "uh perasaan apa ini?" lirih hari Rahma.
Di dalam kossan itu ada 3 orang pemuda yang bercakap-cakap. Di temani beberapa gelas kopi dan rokok. Dan sebuah buku tebal yang di buka tergeltak di atas lantai.
"Kamu hanya perlu mendengar mereka. Aku akan buatkan kopi" bisik Aly pada Faisal.
"Bang Romi, saya bawa teman saya" jeda Aly di tengah-tengah keasyikan mereka.
"Oh ya boleh Ly. " jawab Romi
"Baik kita lanjut. Lu tahu semua kan? Para pahlawan sudah menjadi tulang belulang yang tidak lagi berbicara. Hanya sebuah sejarah dan bukti peninggalannya saja terpampang di berbagai musium. Sekarang giliran lu, gua dan seluruh bangsa kita yang berbicara. Bercirapa apa? Kedamaian negara, persaiangn antar negara, pendidikan dan banyak lagi. Tapi awas, Jangan karena kita bukan cetakan Universitas, melainkan sebagai "Pelayan Roti" dengan gaji seberapa. Tapi bukan berarti kita selamanya menjadi Pelayan Roti. Lu tahu caranya bagaimana? " Tanya Romi sembari menunjuk Faisal. Faisal hanya terdiam dan kaku.
"Caranya budayakan literasi. Santai bro, kita masih punya kopi dan batangan rokok agar tetap memaslahatkan waktu dengan literasi. Dulu sih. Kita memang mengenal literasi sebagai baca tulis saja. Sekarang bukan sekedar itu saja. Literasi adalah praktik kultural yang berkaitan dengan persoalan sosial dan politik. Kemampuan mengupas berita tentang apapun itu. Lu yakin masih gak mau kenalan dengan ini? Jangan tergesa-gesa!, lu boleh menyicil bacaan buku yang kamu baca. Gak usah banyak-banyan. Lu hanya perlu tahu maknanya saja dan yang paling penting adalah (Pengamalan). Nih kita ngobrol kayak gini juga literasi".
"Bentar bro, untungnya literasi apa?" Tanya Hasan yang sedari tadi mengkerutkan keningnya .
"Banyaklah. Otak lu gak kosong. Dan lu gak perlu menjual bahasa. Tapi orang akan membeli bahasa lu. Banyak wawasan itu enak bro. Bisa ngomong apalagi. Buya Hamka aja sering kritik-mengkritik, itu bagus! Kalau tanpa kritikan... dunia tidak berubah bro. Orang akan jenuh dengan produk lu yang kemasannya gitu-gitu doang, yang rasanya gak ningkat-ningkat. Bayangkan gelas ini 20 thn kedepan. Tidak ada yang tidak mungkin untuk lebih fantastic. Masih mau ketinggalan? "
Faisal tertegun, fikirannya agak terpoles dan sejuk. Banyak konsep yang mulai tersimpul di nalarnya.
"Gimana Sal? KERTAS kan?? " bisik Aly sembari menghentak bahu Faisal.
"KERTAS? " tanya Faisal heran.
"Iya.. Kerennya Literasi". Faisal menghisap rokok yang masih menyala.
"benar-benar KERTAS" gumam Faisal tersenyum.
Mantap, teruslah bergeliat dengan jari-jarimu
BalasHapus